Wednesday, October 7, 2020

  

PXHere
    Dalam beberapa tulisan sebelumnya, aku membahas tentang bagaimana para pejuang garis dua berperang dengan perasaannya sendiri. Melawan ketakutan karena belum kunjung hamil, berdamai dengan pertanyaan seputar kehamilan, lengkap dengan opini mereka yang kadang terkesan melupakan siapa pemilik kita.  Yang paling sering perlu aku lakukan secara pribadi adalah menata hati atas apa yang kini di hadapi.

Masalah hati yang pada akhirnya tidak bisa sembarangan di bagi sekali pun pada keluarga sendiri. Kadang kita perlu teman berbagi di luar keluarga serta pasangan, tapi tak mudah menemukan mereka selalu ada. Bukan tanpa alasan, setiap

orang memiliki kehidupan sendiri, kadang bahkan tak ada waktu untuk mengurusi hidup orang lain sekali pun hanya sebagai pendengar.

Aku pernah berada pada satu kondisi dimana setelah menikah merasa kehilangan teman yang dulu selalu ada. Satu ketika harus sedikit berusaha menghubungi lebih dulu mereka hingga akhirnya menyadari bahwa setelah menikah ada dinding yang membatasi sebuah peremanan. Kamu tidak lagi bisa mengsama ratakan pertemanan sebelum dan setelah ada pernikahan, sedikit banyak ada saja yang berubah.

Kala itu adalah saat dimana aku ingin berbagi perihal kehamilan yang belum kunjung datang. Dalam kehampaan atas banyak ketidak syukuran, aku merasa perlu support dari seorang teman. Tanpa memahami mereka telah dengan kehidupan yang lebih berarti ketimbang mendengar keluh juga kesahku. Dan satu hal yang teramat aku pelajari dari momentum ini adalah tentang betapa berartinya pasangan kita yang kapan pun senantiasa menjadi teman juga pendengar yang baik.

Aku akan selalu katakan bahwa selama proses menunggu garis dua sebagai kabar baik, selama itu pula aku belajar banyak hal tentang kehidupan yang sejatinya seperti roller coaster. Banyak hal baik yang aku sadari pada akhirnya, termasuk soal pertemanan dan berartinya teman terdekat yakni pasangan kita sendiri.

Selama menunggu ini pula menyadari bahwa terlalu banyak hal yang perlu di syukuri. Menyadari bahwa tidak perlu berkeluh kesah pada manusia karena hakikatnya ada Allah yang kapan dan dimana pun senantiasa mendengarkan kita. Ya….. ternyata saat itu pula aku menyadari bahwa kita memang memerlukan teman untuk berbagi di luar keluarga dan pasangan. Namun bukan teman lama yang ku harapkan kehadirannya, tapi Allah SWT yang tanpa kita minta akan selalu ada.

Maka teman-temanku sesame pejuang garis dua, ini jelas tidak mudah. Namun penantian kita yang seakan di selimuti kesakitan ini ternyata menyimpan banyak pelajaran berharga serta deskripsi atas begitu banyak hal yang perlu kita syukuri pada satu-satunya pemilik diri dan segala yang kita lihat juga dengar di muka bumi. Mari hanya berserah kepada-Nya.

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates