Tuesday, October 13, 2020

 

Google.com

                Seorang ibu, akan selalu bertindak sebagaimana ibu pada umumnya. Berusaha melakukan yang terbaik bagi anak-anak mereka sekali pun nyawa taruhannya. Tatkala seorang ibu harus melakukan banyak hal dan membagi waktu, dalam relung terdalam anak adalah prioritas meski terkadang harapan menjadi ibu terbaik di kalahkan keadaan.

                Hal yang  aku lihat dari Mama. Wanita luar biasa itu, sejak sebelum aku terlahir kedunia telah berusaha berjuang menjadi ibu terbaik,  

namun ia harus mengalahkan seluruh harapann karena roller coaster kehidupan yang membawanya naik turun menjalani hidup penuh dengan kejutan. Menjadi istri dan ibu juga menjalani perannya sebagai pemilik sebuah warung kelontong, beliau terpaksa menjadi tidak seperti ibu lainnya.

                Berjibaku dengan segala aktifitasnya sebagai upaya membantu perekonomian keluarga, yang dalam kondisi tertentu tidak dapat sepenuhnya di penuhi dari penghasilan Abah sebagai seorang buruh tani. Mama pada akhirnya turun tangan untuk tetap menjalankan roda penghidupan keluarga kami. Satu hal yang memungkinkan untuk mama lakukan adalah menjalankan warung kelontongnya.

                Membagi fokus pada beberapa peran yang harus ia kerjakan, aku merasakan betapa sulitnya mendapat perhatian di luar terpenuhinya kebutuhan primer. Tidak ada bimbingan belajar selama 12 tahun menjalani pendidikan, tidak pernah mendengar pertanyaan mama perihal “Bagaimana kondisi di sekolah?”, atau “Ada PR apa hari ini?”. Qadarullah apa yang tidak aku dapati tersebut, bukan sebuah permasalahan besar bagiku kala itu. Faktanya Mama tetap menjalankan tugas sebagai ibu dengan segala keterbatasannya. Dan aku tetap memperoleh hak-hak primerku sebagai seorang anak meski ku dapati beberapa kepedihan di masa kecilku. Lagi-lagi itu bukan masalah, karena dari segala bentuk kepedihan yang ku temui di masa lau, hari ini aku memperoleh hal besar yang membuatku lebih banyak mengungkap syukur.

                Beberapa tahun sebelum mama wafat, dan aku telah beranjak dewasa. Saat itu aku mulai menyadari banyak hal tentang Mama. Seandainya waktu berputar lalu kembali kebelakang dan Mama di hadapkan pada kondisi berbeda dengan apa yang sebelumnya beliau alami. Saat jika ia tidak harus bekerja lebih keras, saat dia hanya harus fokus menjalankan perannya sebagai seorang istri juga ibu bagi anak-anaknya. Ia benar-benar akan menjadi ibu yang sangat sempurna.

                Terbukti setelah Mama menjadi ibu yang tidak begitu sibuk dengan aktifitas sebagai pemilik warung kelontong. Anak-anak yang telah tumbuh dewasa dan taraf hidup yang sedikit banyak dan secara perlahan meningkat. Pada Akhirnya Mama menunjukkan jati diri seorang ibu yang luar biasa itu.

                Beliau semakin menunjukkan pribadi yang terus memperbaiki diri, mengajak anak-anaknya untuk juga selalu memperbaiki diri. Saat aku duduk di bangku kuliah Mama semakin rajin melempar pertanyaan tentang bagaimana aktifitas perkuliahanku, bagaimana tugas-tugasku serta membangun kebiasaan baru mengajak ku menceritakan apa yang dilakukan sepanjang hari.

                Mama senang menonton talkshow dan program-program motivasi di televisi. Bahkan mama menjelma menjadi motivator bagi kami anak-anak yang kian hari kian mencintai Mama dengan segala hal baik yang ia tunjukkan. Bahkan ketika mama tidak sedang berbicara juga berpetuah. Dia tampak luar biasa dengan segala tingkah laku yang menghadirkan pengaruh – pengaruh positif bagi kami.

                Mama kami hanya selalu merindumu saat ini, semoga di sana engkau sebaik saat-saat terakhir kehadiranmu di dunia ini. Aamin……

Foto : https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Ffimadani.com%2Fhari-ibu-menurut-islam%2Fsejarah-hari-ibu-menurut-

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates