Toxic Positivity, Niatnya Mau Positive Thinking eh…. Malah Toxic

July 19, 2021

toxic positivity

 

Positive thinking atau berfikir positif adalah sebuah cara berfikir yang diproses untuk dapat menghadirkan energi   positif. Tujuannya  agar seseorang dapat berperilaku positif setelah mereka berfikir positif.  Disamping begitu banyak manfaat yang ditawarkan dari perilaku berfikir positif, istilah tersebut mendefinisikan sesuatu yang baik seakan tidak ada keburukan di dalamnya.

Begitu pun denganku, tiga tahun terakhir berusaha menjadi lebih positif .Mencari referensi dari beberapa buku tentang bagaimana cara always be  positive thinking.  Dampaknya benar-benar baik, disamping merasa lebih tenang menjalani setiap rangkaian kehidupan , rasanya lebih mudah menerima ketidak sesuaian antara fakta dengan apa yang sempat aku ekspetasikan terhadap satu hal.   Namun  keinginan merubah diri untuk menjadi pribadi lebih baik dengan selalu keep positive thinking, ternyata menghadirkan sebuah pertanyaan besar, kenapa pada beberapa momentum aku justru merasa tertekan?.

Tekanan yang dimaksud yakni kondisi dimana aku merasa sangat bersalah ketika kecewa atau marah terhadap kondisi yang tengah dihadapi. Saat sakit, enggan untuk mengungkapkan kalau aku merasa sakit dengan dalih harus membangun sugesti positif. Menolak segala bentuk emosi negatif karena ingin terus positif, hal ini kemudian berdampak pada perubahan-perubahanku secara psikologis diantaranya menjadi sosok yang sangat introvert. Padahal sebelumnya aku adalah pribadi yang cukup terbuka terhadap lingkungan sekitar, khususnya orang-orang terdekat dalam keluarga.Terjawab sudah kejanggalan yang aku rasakan selama ini, saat beberapa minggu belakangan menemukan istilah yang ramai disebut sebagai Toxic Positivity .

 

Lalu apa sebenarnya Toxic Positivitiy itu?.

Adalah sebuah tindakan  menolak emosi negatif dan menutup diri  terhadap hal-hal yang bersifat negatif. Toxic Positivity juga merupakan kondisi dimana seseorang menuntut dirinya sendiri juga orang lain untuk selalu berfikir dan bertindak positif hingga mengabaikan masalah juga perasaan  yang sedang ia atau orang lain hadapi.

“Sabar aja, nanti juga selesai masalahnya”

“Coba lebih bersyukur deh!, kamu masih lebih beruntung dari orang-orang di luar sana”.

“Positif thinking aja, pasti ada sisi baiknya kok”.

Pernah dengar semua ungkapan di atas?, rasanya siapa pun mungkin pernah ya, entah itu dari orang lain secara langsung kepada kita atau justru kita sendiri yang mengatakan hal-hal tersebut kepada teman, sahabat atau keluarga yang kondisi hatinya sedang tidak baik.

Terkadang, menceritakan masalah  kepada orang yang kita percaya menjadi solusi terbaik meski  hal tersebut dilakukan bukan untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang tengah dihadapi. Begitu juga mereka yang mempercayakan kita sebagai pendengar dari setiap permasalahannya. Namun apakah mereka yang mendengar ungkapan tersebut saat tertimpa masalah akan  merasa lebih lega, atau justru sebaliknya?.  Jangan sampai hal-hal positif yang kita sampaikan malah menjadi toxic bagi orang lain.

Tidak ada yang salah dengan kalimatnya, justru apa yang diungkapkan adalah kalimat yang seharusnya juga berdampak positif. Tapi mengabaikan perasan kita atau orang lain dengan dalih harus selalu berfikir positif justru berdampak sebaliknya. 

 

CIRI-CIRI TOXIC POSITIVIT

1.   Saat sedih dan marah akan merasa bersalah

Ketika ingin hidup lebih positif, seseorang akan berusaha melakukan hal-hal yang juga positif dari mulai berfikir hingga berperilaku. Namun pada beberapa individu hal ini berdampak pada timbulnya perasaan bersalah jika seseorang tersebut memunculkan emosi negatif dalam dirinya. Perasaan bersalah tersebut yang memungkinkan tumbuh menjadi tekanan bagi mereka yang tidak dapat melakukan penerimaan terhadap emosi negatif yang dirasakan.

 2.     Menyangkal  emosi negatif dalam dirinya.  

Merasa harus selalu berfikir dan bertindak positif sehingga seseorang harus selalu bahagia dan mengabaikan perasaan sedih, kecewa, marah yang sejatinya ada pada setiap manusia.

3.      Mengabaikan perasaan orang lain

“Tenang, nanti juga lupa kok”
“Jangan terlalu difikirin, let it flow aja”
“Sabar, kamu pasti bisa lewatin ini semua”

Dengan mudah berkata demikian kepada orang lain tanpa memikirkan perasaan mereka, secara tidak langsung menuntut orang tersebut untuk bersikap dan berfikir positif padahal mereka perlu mengungkapkan emosi negatifnya.

 

DAMPAK TOXIC POSITIVITY

Dari ciri-ciri toxic positivity kita tahu bahwa itu pula dampak bagi mereka yang terlalu menekan dirinya untuk bersikap dan berfikir positif. Sebuah hal yang diupayakan untuk menciptakan kondisi lebih baik pada seseorang , akhirnya malah menjadi tekanan yang mengganggu seseorang secara mental. Berusaha terlihat tegar padahal perasaan sebenarnya sangat kontradiktif dengan hal tersebut. Merasa bersalah ketika muncul emosi-emosi negatif hingga menjadi pribadi yang sangat introvert karena malas bercerita untuk menghindari hal-hal bersifat negatif yang mungkin dimunculkan.


Dari Journal of Personality & Sosial Psychologi dihasilkan kesimpulan dari sebuah penelitian bahwa, “Orang yang pada umumnya menolak emosi buruk/negatif, mereka pada akhirnya akan merasa tertekan secara psikologis.

 

CARA MENGHINDARI TOXIC  POSITIVITY

  1. Terimalah setiap emosi negatif yang kapan pun bisa muncul dalam diri kita. Kelola dengan tepat tanpa menekan dan melakukan penolakan atasnya hanya karena ingin selalu bersikap positif. Sedih, marah, kecewa serta munculnya lintasan fikiran negatif adalah sesuatu yang sangat wajar terjadi pada setiap individu, tinggal bagaimana kita mengelola dengan tepat emosoi tersebut
  2. Akui bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja, biarkan hati dan fikiranmu mengekspresikan perasaan yang sebenarnya. Stop berusaha dan pura-pura bahagia!. Jika tidak dapat mengungkapkan pada orang lain, terbukalah  pada lingkungan sekitarmu, misal dengan mengungkapkan masalah dalam bentuk tulisan di buku harianmu.
  3. Hargai perasaan orang lain dan jangan memaksa mereka untuk selalu berfikir dan berperilaku positif.

Berfikir dan berperilaku positif itu sangat penting, karena hidup yang positif dimulai dari fikiran yang juga positif. Namun jangan mengabaikan segala bentuk perasaan negatif yang muncul dalam diri. Untuk menjadi bahagia tidak selalu harus mengeneralisasikan ekspresi bahagia pada setiap kondisi. Sedih, marah dan kecewa bukan hal buruk yang harus tidak diakui keberadaannya. Menjadi bijaklah pada diri demi kesehatan tidak hanya fisik tapi juga psikis kita.

Terhadap orang lain yang mempercayakan kita sebagai pendengar dari setiap permasalahannya. Mari menjadi pendengar yang baik, membangun sugesti positif yang lebih humanis dengan peka terhadap apa yang mungkin mereka rasakan. Ajak mereka untuk menerima segenap perasaan yang menyelimutinya. Barulah  bantu mereka melakukan pengelolaan tepat terhadap perasaannya agar tetap lebih positif.

 

 

You Might Also Like

2 Comments

  1. Aku baru tahu loh toxic positivity ini, jangan2 aku juga mengalaminya 😢 yang paling penting kita menerima diri apa adanya ya kak, boleh sedih kok, boleh kecewa, boleh marah tapi tetap harus percaya bahwa semua itu adalah proses kita menjadi lebih baik lagi kali ya kak 😁 syemangats

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga dulu nggak sadar smpai akhirnya ngerasain ada yang janggal aja gitu mbak dari upayaku terus positif thinking. pokoknya bnyak hal yang nggak bisa di jelasin dan rasanya nggak enak. belakangan tau kalau itu namanya toxic positivity

      Delete

About Me

Like us on Facebook

Popular Posts

Kode Iklan Tengah 1