Wednesday, March 24, 2021


Karakteristik anak usia dini


Banyak hal yang menjadi perbincangan menarik saat mengangkat topik terkait Anak Usia Dini. Di samping pertumbuhan dan perkembangannya, mereka hadir dengan keunikan yang khas dalam berbagai aspek. Sebagai salah satu pendidik Anak Usia dini, ketertarikan mempelajari keunikan mereka menjadi kejutan menarik saat menemukan secara langsung apa yang sebelumnya telah saya pelajari.

Disamping kecerdasan majemuk sebagai salah satu bukti bawa Anak Usia Dini sangat unik, mereka juga memiliki karakter yang hadir dengan kekhasannya. Berikut 7 Karakteristik Anak Usia Dini tersebut diantaranya:


karakteristik anak usia dini

1. Memiliki Rasa Ingin Tahu Yang Besar

Beberapa orangtua terkadang mengeluhkan kebiasaan anaknya yang suka dengan aktifitas membongkar pasang benda-benda disekitarnya. Misal seorang anak yang dibelikan mainan, alih-alih hanya memainkan mainannya dia justru membongkar hingga tak jarang berakhir dengan rusaknya mainan tersebut. Satu sisi hal itu terkadang membuat orangtua geram dan menyesalkan tindakan sang buah hati, namun di sisi lain inilah letak dimana seorang anak menunjukkan identitasnya sebagai pribadi yang unik.

Ketertarikan anak-anak terhadap dunia sekitar sangatlah besar, ketertarikan tersebut pula lah yang kemudian mendorong rasa ingin tahu yang mereka tunjukkan melalui perbuatan dan pertanyaan. Aktifitas membongkar pasang mainan misal, membuktikan bahwa anak-anak menunjukkan rasa ingin tahunya dengan berusaha menemukan apa yang mereka cari dalam sebuah objek bernama mainan. Membongkarnya merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahu mereka.

Pada kondisi yang lain, seorang anak menunjukkan rasa penasaran mereka terhadap sesuatu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diwujudkan dengan kata “apa dan mengapa”. Ciri khas yang ditunjukkan adalah berusaha memperoleh jawaban dengan terus menerus mengajukan pertanyaan yang terkadang membuat orangtua atau pendidik mengahadapi kesulitan untuk memberikan jawaban yang tepat. Misal: satu ketika saya dihadapkan pada seorang anak usia kelompok B yang bertanya kenapa Allah hanya satu?, kenapa Allah bukan laki-laki dan perempuan?, hingga kenapa Allah hanya satu tapi bisa melihat apapun didunia ini?. Agak merinding saat itu, salah jawab anak-anak akan salah pula memahami. Dengan begitu, sebagai pendidik kita perlu memiliki beragam strategi dan tindakan antisipasi ketika dihadapkan pada kondisi tersebut.

2. Merupakan Pribadi yang Unik

Jangankan anak kita dengan anak orang lain, saurada kandung bahkan saudara kembar pun tidak akan pernah memiliki persamaan yang sangat identik. Karena sejatinya setiap anak berbeda dan memiliki keunikan masing-masing. Tidak hanya terlihat dari ciri fisik saja, dalam konteks lain orangtua atau pendidik dapat menemukan keunikan anak melalui perilaku, minat, gaya belajar dan latar belakang keluarganya.

Keunikan yang dapat terbentuk dari faktor genetik dan lingkungan menjadikan anak-anak memiliki kekhasannya masing-masing. Penting bagi orangtua dan pendidik untuk menemukan keunikan anak terutama dalam hal minat. Karena dengan begitu kita dapat mengakomodasi setiap keunikan anak.

3. Suka Berimajinasi dan Berfantasi

Di rumah saat bermain bebas, Saka senang bermain imajiner. Ibunya sering kali melihat Saka berbicara dan bercengkrama dengan mainan figure hewan miliknya, dia sangat menikmati aktifitas tersebut seolah figure hewan miliknya itu benar-benar hidup dan menjadi temannya. Hal tersebut wajar dan dilakukan hampir oleh semua anak khususnya pada usia 3-4 tahun. berimajinasi dan memiliki teman imajiner menjadi karakteristik umum pada Anak Usia Dini

Sedangkan berfantasi juga adalah kondisi yang sering kita lihat pada anak-anak. Bahkan jika masih ingat, saat seusai mereka kita melakukan hal serupa. Anak-anak mampu membuat gambaran khayal yang luar biasa, membayangkan dan mengembangkan hal jauh dari kondisi nyata. Seperti halnya ketika mereka menjadikan karpet sebagai kapal, box bekas sabun atau pasta gigi sebagai telepon dan lain sebagainya.

4. Masa Paling Potensial Untuk Belajar

Pernah dengar istilah Golden Age atau Usia Emas?, istilah ini menggambarkan masa potensial Anak Usia Dini untuk mempelajari berbagai hal, terutama saat usia mereka masih di bawah 2 tahun. ini sangat berlasan mengingat pada usia ini pula anak mengalami perkembangan yang sangat dalam berbagai aspek. Sehingga agar masa peka ini tidak terlewati penting bagi anak untuk memperoleh stimulasi yang tepat dan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

5. Menunjukkan Sikap Egosentris


Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates