Friday, October 2, 2020

       

www.google.com

                Bekerja secara berkelompok tentu sering kita temui dalam setiap proses pembelajaran di  semua jenjang pendidikan. Entah itu TK/RA, SD, SMP, SMA, hinga Perguruan Tinggi dan ini menjadi penting dilakukan sebagai upaya membangun kemampuan bekerja sama antar peserta didik. Mungkin tidak terlalu menjadi rumit jika itu dilakukan di jenjang pedidikan SD hingga Perguruan Tinggi. Tapi bagaimana dengan anak usia dini??.

                Pada dasarnya anak usia dini cukup mudah dikendalikan untuk dapat melakukan kegiatan bekerja secara berkelompok. Hanya saja terkadang sebagian guru beranggapan bahwa memberika tugas secara berkelompok adalah sesuatu yang cukup rumit hingga merasa lebih baik itu tidak dilakukan, begitu pun saya pada mulanya.

                Akhirnya sempat beberapa kali melakukan pembelajaran berkelompok di Raudhatul Athfal tempat saya mengajar sebelum pandemi datang. Pada mulanya memang terasa rumit, harus membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, menegaskan kepada anak bahwa mereka akan bekerja sama, tidak mengerjakan tugasnya sendiri dan akan saling berbagi peran.

                Tentu itu bukan hal yang mudah, mengingat anak-anak perlu diingatkan secara berulang. Belum lagi berhadapan dengan usia mereka yang masih dominan  egosentrisnya, ada yang belum mau mengalah hingga terjadi pertengkaran khas anak selama proses melakukan pekerjaan secara berkelompok.

                Satu ketika saya memberi tugas secara berkelompok untuk menanam biiji kecambah. Saya  membagi anak-anak dalam kelompok kecil yaitu dua anak per kelompok. Tugas mereka adalah menulis nama anggota kelompok dan menempelnya pada gelas plastik untuk menanan kecambah yang sebelumnya telah di sediakan. Berikutnya adalah bersama sama menanam kecambah dengan memasukan kapas, air dan biji kacang hijau ke dalam gelas yang telah mereka beri nama sebelumnya.

                Banyak hal yang saya temukan ketika mendampingi mereka melakukan tugasnya. Mulai dari anak-anak yang terlihat kaku berkomunikasi dengan teman satu kelompoknya, karena merasa tidak begitu dekat. Atmosfir belajar sambil bermain yang tersaji dalam bentuk kerjasama antara teman. Serta tingkah polah mereka yang beragam dan penuh kejutan. Bahkan beberapa hal yang tak pernah saya temukan sebelumnya, ada pada proses belajar kelompok anak usia dini.

                Jangan tanya tentang kerumitan, saya menghadapi itu, tapi lebih dari kerumitan yang di alami ada kepuasan menyaksikan anak-anak menunjukkan potensi yang belum pernah saya lihat ketika mereka belajar secara individual. Maka dari itu kita sebagai pendidik  jangan merasa takut atau malas untuk mulai menghadapkan anak didik kita pada proses belajar kelompok. Karena tersimpan banyak kejutan di dalamnya yang mungkin tidak kita temukan sebelumnya.

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates