Thursday, October 22, 2020

  


ILUSTRASI belajar daring dari rumah /Rizki Saputra//PIXABAY

                Oktober 2020 menjadi bulan ke delapan sejak di temukannya kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 maret 2020. Masih dalam kondisi serupa saat PSBB mulai di sosialisasikan tak lama setelahnya. Sekolah-sekolah di rumahkan, sistem pendidikan 100% berbasis daring. Di Kota Sukabumi sendiri sekolah mulai di rumahkan sejak 16 Maret 2020 dan hingga hari ini belum ada kepastian kapan kita akan mulai kembali ke sekolah?.

                Di era serba digital ini , daring menjadi pilihan paling alternatif untuk tetap memberikan layanan pendidik pada siswa. Mengingat resiko yang ditimbulkan dari aktifitas tatap muka begitu besar, dengan terpaksa pembelajaran daring ini harus tetap dilaksanakan. Termasuk tantangan demi tantangan juga segala bentuk keterbatasan yang ada di dalamnya

                Tantangan besar pun di mulai beberapa pekan setelah aktifitas belajar secara daring di lakukan. Muncul banyak keluhan khususnya di barisan para emak yang mengaku kewalahan membimbing anak-anak mereka di rumah.” The power of emak-emak” kembali menjadi hastag paling di gunakan, setelah tersebar banyak video tentang bagaimana para emak turun tangan untuk mengajari anak mereka di balut candaan khas emak-emak. Walau pun tak sedikit pula aktifitas tersebut memunculkan amarah dari para emak kepada anak-anaknya.

                Di kutip dari Muslimahnews.com yang memaparkan tentang bagaimana seorang guru Taman Kanak-kanak (TK) sempat melakukan eksperimen sosial di laman facebook. Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana pendapat dan tanggapan  para orang tua  terkait pembelajaran melaui daring?. Dari hampir 100 respon yang masuk komentar emak-emak di dominasi dengan ungkapan seperti ribet, salto, jungkir balik, uji kesabaran, bikin darting  serta pengeluaran yang semakin membangkak.

                Walaupun tidak mewakili jawaban seluruh orang tua di Indonesia, namun jawaban tersebut cukup mewakili perasaan mereka yang di buat darting karena pembelajaran daring. Lama-lama  panas juga nih hati emak, minum cendol dingin sambil selonjoran tengah hari sepertinya bisa diandalkan untuk mendinginkan perasaan :D. Bisa melipir dulu nggak nih kira-kira, eitsssssss…….

google.com


               
Masih dari sumber yang sama Muslimahnews.com, inilah beberapa keluhan emak-emak terkait pembelajaran daring

1.       Anak Mengakses Gadget

P     Permasalahan anak dengan gadget menjadi masalah sosial yang tak sedikit menjadi sorotan. Beragam upaya untuk membatasi penggunaan gadget pada anak pun disosialisasikan. Setelah pandemi yang memaksa anak harus belajar secara daring, tentu penggunaan gadget menjadi media paling vital untuk mendukung proses belajar.

2.       Pengeluaran melonjak

        Pandemi mengurangi produktifitas, begitu faktanya. Perekonomian melemah orang tentu perlu lebih ketat mengatur keuangan juga pengeluaran. Lalu apa yang sebenarnya terjadi setelah pembelajaran daring harus di lakukan?. Bukan rahasia jika daring ini memerlukan cukup kuota untuk tetap mendapatkan akses pembelajaran. Demikian karenanya pengeluaran untuk  kuota internet semakin melonjak.

3.       Orang Tua Bekerja

        Tidak semua orangtua berada di rumah dan siap membimbing pembelajaran secara daring. Banyak orang tua yang tetap harus bekerja dan baru ada di rumah saat sore menjelang malam tiba.

        Anak yang tidak di fasilitasi gadget tentu harus menunggu orangtua mereka pulang bekerja baru bisa mengerjakan tugasnya.

4.       Tidak Punya Gadge

        Tak sedikit oran tua yang tidak memiliki gadget, atau satu rumah hanya memiliki satu buah gadget yang di gunakan Sang ayah untuk bekerja. Hal ini pula yang banyak di keluhkan masyarakat saat ini.

5.       Kendala Jaringan

      Kasus kegagalan ikut belajar daring karena tidak adanya jaringan juga banyak di keluhkan. Memang begitu fakta sesungguhnya. Apalagi di beberapa daerah pedalaman yang akses internet nya sangat terbatas.

 

                Itulah beberpa kondisi yang umum terjadi di masyarakat khususnya emak dan anak yang di hadapkan pada pembelajaran daring dengan segala keterbatasannya. Delapan bulan berlalu dan entah kapan akan berakhir?. Sepertinya emak-emak, siswa juga guru  perlu cukup hiburan untuk  berdamai dengan kondisi ini. Doa dan harapan yang senantiasa terucap semoga pandemi ini segera berakhir.

 

 




Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates