Sunday, September 20, 2020

Mengurai cerita dari satu sisi kehidupan  yakni  keluarga. Dua tahun lalu jika tak salah, saya sempat menulis tentang mereka  di sosial media, di sematkan beberapa foto family camp pertama kami sebelum saya menikah satu tahun setelahnya.  Selepas  itu masih banyak tulisan-tulisan saya yang di dalamnya menceritakan keluarga.

                Kenapa sih seneng banget nulis topik itu?. seandainya ada pertanyaan semacam itu, satu hal saja yang ingin saya katakan “Keluarga adalah tempat kembali”, selalu ada kalimat itu di beberapa tulisan saya tentang kelurga. Ini  hanya dalam konteks berkehidupan di dunia, karena hakikatnya satu-satunya tempat kembali adalah Allah SWT.

Seberapa buruk dan seberapa sulit tekanan yang kita hadapi keluarga selalu memiliki kelapangan membuka hati untuk senantiasa menerima kita kembali. Saya tau betul bagaimana mereka  memiliki kelapangan hati untuk senantiasa menadampingi dikala sedih, memberi support terbaik kala terjatuh, mengingatkan ketika kita melakukan kekeliruan. Dan aku melewati fase itu hingga menyadari betapa berharga nya kehadiran mereka

     Masa lalu memberi saya  peluang untuk menyadari  itu. banyak hal di  masa lalu yang membuatku belajar memaknai  lebih dalam akan kehadiran keluarga. Pada satu kondisi  di masa lalu tersebut,  saya  mengalami apa itu sebuah labilitas dari sisi berperilaku, berkata dan berfikir.

     Ketidak mampuan mengelola ketiganya dengan baik, serta labilitas dan ego yang masih mendominasi  diri. Kala itu saya benar-benar pernah berada pada problematika kehidupan yang membuat saya mengisolasi diri dari keluarga. Keegoisan tak mendasar membuat saya menjadi pribadi yang merasa diri ini paling benar. Nah loh…… serius dalam kondisi ini aku kerepotan banget.

                Kisah cinta yang hanya memikirkan perasaan saya saat itu, adalah salah satu yang mengawali semua problem di masa lalu. Sedang dalam kondisi begitu mengagumi seseorang , saya memilih menutup telinga atas apa yang keluarga sampaikan. Saran, petuah, dan  komunikasi baik yang berusaha mereka lakukan dengan baik, seakan menjadi bola api yang akan dengan cepat saya lempar karena rasa panasnya.

                Saya lupa akan posisi mereka sebagai orang terdekat dan paling mengerti ketimbang siapa yang saya berusaha perjuangkan. Saya lupa mereka menyadari kerasnya hati ini, tapi tetap berusaha melindungi. Saya lupa pada akhirnya benar-benar pada mereka diri ini kembali untuk sebuah penerimaan.

                Telah tiba saat saya terjatuh, saat itu aku mengerti mereka tetaplah paling mengerti dan kapan pun senantiasa menerima kita kembali. 

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates