Monday, September 7, 2020

 

id.pinterest.com/
id.pinterest.com/


Pagi ini diawali dengan segelas kopi dan diskusi. Saat suami menemukan sebuah postingan di salah satu akun sosial medianya terkait etika berbicara dengan orang lain. Pada postingan tersebut disebutkan bahwa ketika seseorang berbicara lalu ia  asik dengan  gadgetnya maka hal tersebut secara etika dikatakan tidak sopan. Saya mengiyakan  berdasarkan perasaan, tatkala secara pribadi merasa tidak di dengarkan jika berbicara pada lawan yang asik dengan  gadgetnya. 

Di sisi lain suami bertaya, “Dalam konteks apa hal  itu di katakan tidak sopan?”, sementara kondisi saat ini menunjukkan banyak orang mengobrol dengan gadget di tangannya, jika bisa tetap fokus dengan lawan bicara kenapa tidak?. Oke baik, ini lemahnya argumen yang hanya didasari perasaaan, membuat saya berakhir pada ketidak puasan atas apa yang diutarakan. Tapi terkait hal ini, sejak dulu saya mendapat pengajaran etika dari orang tua termasuk di dalamnya tentang bagaimana cara berbicara dan memperlakukan lawan berbicara.

                Ibu adalah pendengar yang baik, dengan begitu saya berkaca dari bagaimana dia memperlakukan lawan bicaranya ketika berperan sebagai pendengar. Terbiasa dengan pemandangan itu membuat saya akan selalu merasa diliputi perasaan bersalah ketika harus fokus dengan ponsel sementara seseorang tengah berbicara. Dan sebaliknya jika lawan bicara saya fokus pada ponselnya ketika kami bicara, rasanya saya sedang tidak di dengar sekalipun lawan bicara tersebut dapat memfokuskan diri pada keduanya di saat bersamaan.

                Jika bagi suami dalam diskusi kami, ini hanya tentang konteks apa yang dibicarakan, mungkin jika konteksnya obrolan santai dan dengan teman-teman nongkrong di tempat yang juga santai, boleh lah nyambi main gadget. Sementara bagi saya pribadi apapun jenis obrolannya, apa salahnya jika kita bisa sejenak menyimpan gadget ketika berbicara dengan orang lain. Fokus dan tanggapi lawan bicara  sebagai bentuk saling menghargai sesama manusia.

                Terlepas dari semua itu, kondisi kita saat ini, kita para millenials berhadapan langsung dengan fakta bahwa gadget, ponsel dan apapun sebangsanya, layaknya berperan sebagai makhluk baru yang hampir 100% sangat dibutuhkan dan menjadi lekat dengan kita sebagai individu sosial. Bahkan dengan benda ini kita membangun dunia baru sebagai bentuk sosialisasi di luar dunia nyata.

                Dimanapun kita dapat menemukan pemandangan orang-orang dalam sebuah komunitas, berkumpul sembari masing-masing tertunduk pada ponselnya. Biasa dan menjadi lumrah hingga hilang topik  terkait apakah hal tersebut sopan atau tidak. Belum selesai diskusi kami tentang ini, tapi rasanya sudah ingin selaki menuliskannya. Sebelum saya lanjut pembahasan ini di postingan berikutnya, Nah…. menurut kalian sendiri bagaimana?, pentingkah menyimpan gadget dan fokus  hanya pada lawan bicara, sementara kita sedang berada pada era dimana benda-benda digital sejenis gadget seakan berusaha menguasai segalanya?.

               

5 Comments

Sudut pandang yang berbeda dengan satu topik yang sama. Berasa diingatkan lagi sama topik yang lagi ngehits kemaren, mengenai kata '*n*j*y'.

Semangat kak!

REPLY

Teknologi menyeret pergeseran peradaban yang pada nantinya akan menyeret pergeseran perilaku suatu masyarakat pula. Secanggih apapun gadget bernama smartphone tatapan mata tidak akan bisa menggantikan teknologi manapun

REPLY

Sering sebagai korban... Tapi tak sedikit juga tersentil. Kadang dalam forum masih sering cek wa yang masuk... Itu sebenarnya kurang baik, pendapat pribadi. Tapi kenyataannya banyak orang seperti dipasang magnet antara tangan dan gadget... Termasuk aku...Duhh... Walau tidak parah.

REPLY

Masya Allah, keren tulisannya kak. Aku pribadi penting banget kita kesampingkan hp saat berbicara dengan lawan bicara. Menghargai orang lain, agar mereka bisa menghargai diri kita juga. Ditunggu tulisan selanjutnya kak 😊

REPLY

Dalam komunikasi 2 arah seharusnya ada ketertarikan dan kesamaan tujuan antara 2 insan tersebut. Jika salah satu bermain gadget yang tidak ada hubungannya dengan percakapan atau tanpa ada keperluan khusus. Berarti orang tersebut tidak tertarik untuk berkomunikasi. Menurutku sih begitu. Jatuhnya aku akan menganggap orang itu nggak sopan, attitudenya buruk, etika rendah. duh kok jelek-jelek hahaha

REPLY

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates