Saturday, September 26, 2020

 

id.pinterest.com

Tujuan utama dari sebuah pernikahan, selain sebagai ibadah juga untuk memiliki keturunan. Tapi terkait dengan keturunan hal tersebut tidak semata-mata diinginkan, diupayakan kemudian mendapatkan begitu saya. Bagi sebagian orang yang menginginkan lalu mengupayakan belum sepenuhnya kemudian mendapatkan.

Di luar sana banyak pasangan yang dengan mudah mendapatkan setelah mengupayakan, namun ada pula yang mengupayakan dengan segala yang mereka mampu hingga bertahun-tahun lamanya, namun belum kunjung mendapatkan. Tidak sedikit, karena yang demikian itu kadang berjuang tanpa mengumbar seberapa sulit mereka berusaha menadapatkan keturunan.

Aku adalah satu diantara mereka yang harus lebih bersabar menunggu hadirnya malaikat kecil di rumah kami. Setelah beberapa upaya dilakukan untuk memperoleh keturunan, Allah belum mengkaruniakan apa yang menjadi harapan terbesar dalam pernikahan ku dan suami.  Sampai detik dimana aku menulis ini, Qadarullah belum aku terima kabar bahagia perihal kehamilanku.

Apa yang aku dan para pasangan di luar sana rasakan bukanlah sesuatu yang mudah. Menjadi biasa jika harus mendengar pertanyaan “Udah hamil belum?”, “kok belum hamil?” dan “kapan nyusul?”, yang terkadang membuat hati hilang rasa bahagia serta telinga ingin memiliki filter untuk tak mendengar ketika sipapun bertanya demikian.

Banyak cerita selama penantian menunggu malaikat kecil kami. Tentu mereka di luar sana pun demikian, dengan cerita-cerita yang berbeda. Tapi, ada satu nilai penting yang aku dan suami pelajari selama dua tahun masa penantian. Dari sekian drama yang tak mudah di lewati aku menyadari bahwa disampig diri ini masih perlu banyak belajar sabar, kami sesungguhnya belum siap menjadi orang tua bagi titipan Allah yang kelak akan hadir.

Kenapa begitu?, aku dengan basic Pendidikan Anak Usia Dini, sedikit tau mengenai bagaimana cara mendidik dan membesarkan seorang anak. Apa yang harus dan tidah boleh kita lakukan sebagai orang tua, menjadi materi yang tidak asing ku dengar ketika menempuh pendidikan. Saat menikah aku merasa siap menjadi seorang ibu dengan apa yang sebelumnya aku pelajari.

Tapi bagi Allah tidak demikian, banyak yang aku belum ketahui tentang bagaimana sesungguhnya mendidik hamba Allah yang kelak memanggilku juga suami dengan sebutan Ayah dan Ibu. Apa yang secara teoritis aku pelajari, dari sisi realitas belum banyak aku lihat.   Tanpa aku sadari sebelumnya, selama masa penantian ini Allah benar-benar tunjukkan seberapa penting  yang aku pelajari untuk kemudian  di realisasikan pada anak sendiri nanti.

Melalui beberapa keluarga yang akhirnya menjadi panutanku dalam mendidik anak. Aku tau apa yang mungkin bisa di lakukan  lakukan agar memiliki anak yang berkualitas dari berbagai sisi, baik sosial, emosional, spiritual dan berkepribadian baik  serta berakhlakul karimah.

                Dari mereka aku menyadari bahwa Allah teramat baik dengan segala bentuk kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, siap secara fisik, mental dan spiritual untuk tumbuh menjadi orang tua terbaik bagi anak-anakku kelak.

                Teman-teman di luar sana, jika Allah belum hadirkan malaikat kecil dalam rumah tangga kita, mari lihat betapa banyak sisi baik yang Allah tunjukkan selama masa penantian, dan kita akan semakin banyak mensyukuri setiap karunia-Nya. 

 

 

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates