Saturday, September 12, 2020

Pinterst.id 

                “Kok hidupku gini-gini aja ya?”,

                “Kok hidupku nggak  assik ya, padahal kalau liat orang di sosial media, mereka seru banget hidupnya, banyak temen, sering nongkrong, ngafe, jalan-jalan. Lahhhh ……. Aku masih gini-gini aja”.

                “Ih… dia bajunya keren-keren ya, di feed instagram fotonya juga bagus-bagus”.

                Seru memang, kalau kita sudah berselancar di dunia maya. Bersosial dengan cara yang berbeda. Menyaksikan kehidupan banyak orang yang  entah sesungguhnya benar atau tidak. Berkesempatan melihat lebih luas hal-hal yang tidak semua dapat dilihat di dunia nyata. Yang baik hingga sebaliknya ada disana, dan indikasi untuk melihat keduanya kapan pun sangat mungkin terjadi.

Apakah lewat sosial media kita juga terindikasi menjadi pribadi yang senang melihat ke atas?. Dalam konteks ini adalah hal-hal layaknya strata sosial, materi dan life style. Tentu sangat mungkin bukan?, bahkan hingga peluang untuk mengikuti dan meniru pun sangat mungkin terjadi. Ingin terlihat keren, ingin dipuji, ingin menarik followers, dan yang miris adalah tindakan melakukan segala macam cara untuk sampai pada apa yang menjadi tujuannya hingga memaksakan diri.

Ini menjadikan seseorang terlalu fokus pada apa yang diinginkanya, lupa bersyukur, lupa menyadari bahwa di luar sana banyak keprihatinan melebihi kesulitan yang mungkin tengah kita hadapi saat ini. Pernahkah teman-teman ada pada posisi itu?, jika pernah atau bahkan masih mari bersama-sama menyadari satu hal penting yang akan selalu menjadi alarm tatkala kita lupa apa yang sebenarnya ada di bawah kita. Ya…. “Mari seringlah melihat ke bawah!”

Sore ini saya menyaksikan satu contoh kecil terkait seberapa penting meliha ke bawah?. Seperti biasa ketika mampir ke pom bensin bersama suami, tentu saya harus melipir dulu dan menunggu sampai suami selesai isi bensin. Di sela-sela menunggu sebuah pemandangan tak asing berada tepat di depan mata, seorang gadis pemulung duduk di bahu jalan.

Berjalan dengan buntalan karung beras di pundaknya. Mereka tampak lusuh dan tak terawat, pakaian kumal yang hanya memiliki satu fungsi sebagai pelindung tubuh tanpa berfikir yang mereka kenakan stylish ataukah tidak. Sebetulnya tidak asing bagi saya melihat pemandangan itu. Namun kali ini berusaha memaknai lebih dalam dari sebuah proses hidup setiap manusia yang tidak sama. 
    
            Tentu tidaklah mudah, bertahan hidup di masa-masa bermain yang semestinya di lalui anak seusia mereka. sementara yang sedang mereka lakukan justru sebaliknya. tidak lagi berfikir kapan waktu bermain, dimana dan bermain apa. bagi mereka yang paling penting adalah menemukan apa yang dicari untuk tetap menjalani apa yang disebut sebagai kehidupan. 

                Sementara saya terkadang sibuk membandingkan diri dengan mereka para pengguna sosial media. Melihat banyak yang saya inginkan ada di sana, kehidupan yang seperrtinya akan membuat bahagia jika saya bisa selayaknya mereka. Banyak hal yang saya lupakan, termasuk di dalamnya adalah tentang menyadari sudahkah mensyukuri apa yang telah Allah beri. Kehidupan yang layak, tempat tinggal yang aman dan nyaman, makanan enak, ketenangan hidup serta kenikmatan beribadah, juga banyak hal yang ternyata nyaris tak pernah terlihat sebagai karunia yang Allah telah berikan. 

Itulah teman-teman, betapa pentingnya bagi kita untuk lebih sering melihat ke bawah. Melihat mereka dengan kehidupan tak seberntung kita. Semoga Allah senantiasa menjaga agar kita tetap mampu menyadari dan mensyukuri apa yang telah Allah karuniakan. 

37 Comments

kadang media sosial secara nggak sadar, emang buat kita jadi nggak bersyukur sama nikmat yang Allah kasih :(

REPLY

MaasyaAllah. Tulisan yang bagus dan sebagai pengingat untuk kita sebagai manusia sekaligus hamba Allah.
Bersyukur itu penting. Bahkan, ketika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat kepada kita (QS.Ibrahim:07)

REPLY

Makanya dulu saya sempat off dari segala macam sosial media selama beberapa waktu. Dan... itu bisa membuat diri kita lebih damai dan bersyukur :)

REPLY

Gimana cara nulisnya itu🤧 ih bagus banget

REPLY

Diingatkan tentang syukur pagi ini. Terima kasih mbaak..

REPLY

Habis scrolling marketplace baca ini jadi insaf :''

REPLY

Padahal di balik feed instagram yang super kece itu ada kepalsuan yang mungkin tidak kita tau ya. Memang,keseringan scrolling gak baik buat kesehatan mental ya Mba, jadi sekarang BW aja biar sehat terus

REPLY

Tak semua yang terlihat di dunia Maya adalah realita yang indah.Terkadang kita perlu menjadi diri sendiri dan tidak selalu melihat ke atas. Membaca artikel ini jadi cermin tersendiri buat saya.

REPLY

Orang yg terlihat selalu senyum di kamera, makanan enak, jalan-jalan seru, beumb tentu kenyataannya juga behitu, tulisannya bagus banget kak!

REPLY

Self reminder banget, Kak.

Yaps, Islam itu lengkap. Segalanya di atur. Salah satunya tips untuk membuat kita tenangpun dengan sukarela di berikan. Jika kita melihat perkara dunia lihatlah kebawah. Jika melihat perkara akhirat lihatlah ke atas.

Semoga kita benar-bemar bisa menjalankannya dan konsisten. Aaamin

REPLY

Terkadang apa yang terlihat di sosial media tidaklah sama dengan apa yang di alami di dunia nyata.. dan jika kita terlalu terbawa dengan angan yang kita lihat dari sosial media tadi, secara tidak langsung itu akan membuat kita lupa bersyukur.

REPLY

Tp kdang org" lupa, atau bahkan g mau tau kalau misalnya apa yg terlihat di postingan sosial media, blm tentu sama persis dengan aslinya.. Sosial media emang rada toxic sih..

REPLY

Keren, Kak. Terima kasih sudah mengingatkan untuk melihat ke bawah. Oh iya, kalau pakai tanda tanya, tak perlu pakai tanda titik atau koma, Kak. Dan, huruf awal setelah tanda tanya pakai kapital, Kak. 🙏😊

REPLY

Masyaallah ... Tulisannya bagus sekali kak... Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki saat ini... 😍

REPLY

Kalau urusan dunia liat yang di bawah biar selalu bersyukur, kalau urusan akhirat liat yang lebih giat, lebih rajin, lebih istiqomah biar terpacu buat jadi lebih baik jg. Hehe

REPLY

yapp, saya setuju, terkadang sosial media membuat kita jadi berusaha menaikkan standar kehidupan kita

REPLY

Makanya sekarang aku kurangin main instagram. Biar rasa iri di hati ikut berkurang. Nice post mbaa

REPLY

Melihat ke bawah membuat kita lebih mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

REPLY

Sejatinya dengan melihat ke bawah bisa menumbuhkan empati kita, ya, Kak. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri 😊

REPLY

Melihat kebawah jadi inget sebuah perkataan niezthce. "if you stare at the abyss. The abyss will stare you back." Jika kamu melihat ngarai, maka ngarai akan melihat mu kembali.
Wel... In the end hidup Dengan menatap kebawah terkadang bisa membuat kita adigung. Melihat kebawah untuk bersyukur, melihat ke atas untuk bersyukur dan memotivasi diri, melihat kesamping untuk menyadari betapa indah dan bervarietasnya manusia, melihat kebelakang untuk bersyukur bahwa kita masih bernafas detik ini, dan melihat kedepan untuk bersiap bahwa masih ada esok hari untuk kita lawan
:'v

REPLY

Jleb banget sih ini. Kalau soal dunia, kita perlu sering melihat ke bawah agar senantiasa bersyukur. Tapi soal akhirat, harus melihat ke atas agar lebih termotivasi. Meskipun sebenarnya untuk bersyukur ga selalu harus dengan membandingkan.

REPLY

Rumput tetangga kadang lebih hijau. Ehh gataunya rumput sintetis hahah

REPLY

Makanya aku suka memberi jeda untuk mantengin medsos.

REPLY

MasyaAllah barakahufik, benar bgt bun kadang untuk kehidupan dunia kita harus selalu lihat ke bawah agar rasa syukur selalu ada. Tulisannya bgs bun sederhana tapi pesannya mendalam

REPLY

Terkadang juga penting untuk malakukan detox media sosial. Bukan hanya ketika perasaan sudah dihinggapi dengan ketidakpuasan akan kehidupan kita, tetapi secara berkala untuk menghapus "cache - cache" informasi yang terlalu banyak (yang kebanyakan tidak terlalu penting) di dalam otak kita.

REPLY

Tapi kalo masalah postingan blog, saya selalu melihat ke atas mba hehe biar semangat. Kayak liat postingan mba ini yg tulisannya ngalir bgt jd moyivasi buat saya belajar lagi

REPLY

Media sosial itu biasanya kehidupan yang penuh kepalsuan, jadi sebaiknya kita tidak terlalu menghiraukan hal yang akan merusak pikiran kita. harus pinter nyaring intinya mah

REPLY

Media sosial kadang emang bisa jadi toxic kalo kita ngga pintar dalam menggunakannya

REPLY

bagus tema yang diangkat ... bisa membuat kita instropeksi diri benarkah ... kita seperti itu

REPLY

Aaaaaaa ini relate banget sama apa yang aku rasain. Memang ya, sosial media itu bisa menjadi toxic atau vitamin bergantung masing2 penggunanya. Terima kasih untuk reminder ini kak.

-Melati Alya-

REPLY

benerr, buat bersyukur salah satu caranya dengan melihat ke bawah. tapi gaada salahnya juga melihat ke atas kalua ditunjukin buat motivasi. hehehe

REPLY

Sebelum menggunakan sosial media, alangkah baiknya kita luruskan niat. Kalau niat kita untuk menginspirasi, kita jaga niat jangan sampai terinspirasi dengan kehidupan yang tidak sesuai kemampuan.

REPLY

tamparan yang makjleb teh wid, yuk ah bijak dalam menanggapi apapun yang ada dalam media sosial

REPLY

So truuu.. Bener banget ini, kalau peradaan hati lagi ga pas, buka media sosial malah mengotori hati, jadi toxic :( Makasih Kak, tulisannya i can relate~

REPLY

iya kak.... aku bhakn pernah sampe nggak ngeh sama apa yang dihadapkan ke aku adalah bentuk kecintaan Allah...

REPLY

Massya Allah kak....

REPLY

sama saya pernah juga beberapa waktu sengaja tutup akun sosial media

REPLY

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates