Thursday, November 5, 2020

 


 https://www.google.com
                Setiap orang memiliki kenangan masa kecil yang sulit untuk dilupakan. Dimana kisah itu kadang tak lagi memiliki banyangan, karena perkembangan jaman yang kemudian merubah trend serta cara hidup anak-anak masa kini dengan kita dulu. Apa yang kita para generasi 90an lakukan di masa lalu, seakan sulit di temukan jejaknya. Sulit menemukan mereka yang bermain permainan tradisonal khas daerah masing-

masing, bahkan apa yang kita mainkan dulu berangsur mengalami kepunahan.

                Aku mengalami transisi kehidupan masa kecil yang sangat jauh berbeda dengan anak-anak di masa sekarang. Rutinitas kita yang penuh dengan aktifitas menyenangkan saat berbaur dengan teman sebaya, kadang aku merindukan momentum itu. Bermain sepeda atau permainan tradisional khas Sunda seperti, sondah, galah, gatrik, bebentengan, ucing-ucingan dan lain sebagainya yang ada di lingkungan tempat tinggal.

 https://www.google.com


               
Bermain masak-masakan dengan perlatan yang kita peroleh dari tempat pembuangan sampah, bermain peran dengan gambaran dari setiap sinetron yang kita tonton bersama keluarga, hingga botram (aktifitas makan bersama di tempat terbuka seperti pesawahan, kebuh, atau hanya di halaman depan rumah) yang dilakukan sore hari selepas kami melaksanakan shalat ashar. Ah…. aku benar-benar rindu, gambaran itu sulit sekali untuk dilihat saat ini.

Anak-anak sekarang bahagia dengan versi mereka, bukan lagi bermain permainan tadisional atau berkumpul bercengkrama bersama teman sebaya. Bahagia mereka saat ini cenderung  menyukai kesendirian, berteman sebuah benda digital dimana benda tersebut  menyajikan semua yang bahkan tak di temukan di dunia nyata. Gadget, handphone beragam tipe dan apapun sejenisnya  mengubah masa kecil yang penuh canda tawa menjadi aktifitas menembus dunia di luar dunia nyata.

Apa yang kemudian terjadi?, setelah banyak anak-anak di masa kini seakan tak memiliki gairah tanpa gadget di tangannya. Menjadi tak modern jika membatasi diri dari  dunia bernama maya itu.  dan tak sedikit anak yang pada akhirnya menjadi anti sosial karena terlalu asik dengan kehidupan yang hanya melibatkan ia, gadget juga orang-orang di dunia dimana di dalamnya begitu banyak terdapat kepalsuan.

Sedih rasanya menyaksikan langsung kondisi ini, dimana aku faham  betul dunia masa kecilku, dan aku tak melihat itu saat ini. Bagaimana kini anak-anak secara emosional tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya, berbeda dengan kita yang saat seusia mereka masih bermain galah dan petak umpet. Benar-benar gambaranmasa kecil yang kontradiktif antara kita di era 90an dengan mereka di era generasi 4.0.

Menurut Webers gimana nih???, kalian yang masa kecilnyadi tahu 90an adakah kerinduan akan riuh anak-anak di masa itu?, menurut kalian gimana dengan masa kecil anak-anak kita saat ini?, dapatkah kita mengembalikan apayang sempat kita laukan dan rasakan di masa lalu?, yukkkk sharing di kolom komentar.

 

 


Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates