Tuesday, November 17, 2020

Soal Rizky adalah soal ketetapan. Bagaimana cara Allah memberikan dan seberapa jumlah yang sampai pada kita itu sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Disadari atau tidak rizki tidak datang berdasarkan logika dan pemikiran kita. Sudah tidak asing bukan dengan ungkapan bahwa ada rizki yang datang dari arah tak terduga atau rizki yang tidak di sangka datang menyapa. Demikianlah rizki sejatinya kadang ia hadir tak berlogika.

Kadang kita dihadapkan pada satu kondisi mempertanyakan kenapa rizki yang sampai jumlahnya sedikit padahal kita sudah sangat bekerj keras?. Hingga tak jarang merasa kekurangan bahkan mengeluhkannya. Atau kasus lain tentang seseorang yang enggan untuk memulai usaha karena takut produk nya tidak laku terjual. Sesungguhnya itu pengalaman pribadi saya sendiri. 
Dengan kata lain secara tidak langsung kita belum memahami dan meyakini bahwa rizki tidak bekerja dengan logika seperti itu. 

Terkadang kita merasa sudah bekerja dengan keras untuk hasil yang maksimal. Namun pada akhirnya ternyata memperoleh hasil yang kita rasa belum maksimal. Secara logika itu terlihat kontradiktif dengan pemikiran manusia. Namun bagi Allah, barangkali yang kita sudah dapatkan sejatinya memang itu yang betul-betul kita butuhkan, memberi kecukupan serta baik menurut Allah. Dan ini bisa terjadi dalam kasus yang sebaliknya. Bukan karena Allah memberi kita jarak dengan keadilan, namun di balik itu selalu Allah selipkan banyak pelajaran. 

Pada kasus berikutnya, ketika seseorang berfikir untuk tidak memulai sebuah bisnis karena takut, barang yang ditawarkan nya tidak laku terjual. Lagi lagi ini adalah sebuah pemikiran yang jauh dari memahami rizki sejatinya adalah sebuah ketetapan. Dari sebuah artikel yang pernah saya baca, bahwa dalam berbisnis atau dalam konteks apapun semua terjadi karena Allah yang menggerakkan sesuatu terjadi. Begitu pun menggerakkan seorang pembeli untuk membeli barang atau jasa yang kita jual. 

Siang ini melihat secara langsung bagaimana rizki tidak terjadi berdasarkan permainan fikiran yang logis. Siang ini saya harus mengikuti BIMTEK penggunaan rapot digital untuk jenjang Raudhatul Athfal. Di perjalanan kami singgah di pom bensin yang cukup ramai. Saat tiba di area pom bensin, mobil kami dihampiri 2 pedagang asongan yang menjual beberapa jenis camilan. Pedagang pertama lebih dulu datang, sementara kami masih assik mengobrol di dalam mobil. Berhubung sudah terlalu banyak ngemil kami mayoritas tidak tertarik untuk membeli. 

Kemudian di sisi yang berlawanan seorang pedagang lain dengan jenis barang yang sama pun menawarkan dagangannya dengan mengetuk kaca jendela mobil. Saya menduga tidak ada diantara kami yang berada di dalam mobil tertarim untuk membeli, mengingat seharian tadi banyak makanan yang sudah kita makan. Namun ternyata tidak demikian bagi Allah. Salah satu teman yang duduk di sisi dimana pedagan kedua berada tiba-tiba membuka kaca jendela dan membeli beberapa macam camilan yang kemudian dibagikannya kepada semua orang di dalam mobil. 
 
Semula saya berfikir jika pun ada di antara kami yang membeli maka pedagang pertama lah yang akan terjual dagangannya karena dia datang lebih awal dan kedua nya menjual dagangan yang sama. Tapi tentu tidak demikian ternyata, faktanya penjual nomor dua lah yang Allah izinkan untuk terjual dagannya saat itu. Pasalnya salah satu teman yang duduk di sisi sebelah kiri searah dengan tempat berdiri si pedagang nomor 2. Dia melihat pedagang itu  membawa makanan kesukaannya yakni kripik sukun, sontak iya membuka kaca jendela dan meminta pedagang untuk memberikannya beberapa bungkus keripik sukun tersebut. 

Proses transaksi teman dan penjual makanan berjalan seperti biasa. Di sisi kanan ku saksikan pedagang pertama membalikkan tubuhnya dan berlalu, tampak raut kekecewaan namun aku jelas tak bisa menafsirkan makna sesungguhnya  di balik raut wajah itu. Apakah iya benar-benar kecewa atau mungkin setelahnya ia justru menyadari bahwa apa yang dialaminya saat itu adalah sebuah ketetapan Allah atas dirinya. 

Meninggalkan pom bensin dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan aku berusaha menangkap apa yang bisa aku pelajari dari peristiwa itu. Perihal rizki sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT, siapa pun tidak akan mampu untuk menukar dan memilih rizki yang mana bisa kita dapatkan. Dengan begitu perlukah kita takut akan rizki hari esok, jika sesungguhnya semua rizki akan sampai di tangan sesuai dengan yang ingin Allah berikan, maka itu lah hak kita atas sebuah ketetapan Allah lalu syukurilah. 

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates