Friday, November 20, 2020


Gara-gara istilah “Lidah Mertua” yang diilustrasikan memiliki ketajaman setajam pedang, jadilah sebelum menikah aku fikir ibu mertua layaknya ibu tiri yang jahat. Saat itu usiaku sudah matang untuk menikah namun masih dalam masa penjajakan siapa yang paling mungkin untuk kemudian menjadi imamku kelak. Lebih jauh aku sudah berfikir bagaimana seandainya aku benar-benar dihadapkan pada sosok ibu mertua dengan power lidah mertuanya. Serem amat mikir waktu itu.

Aku juga sempat terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang banyak mengungkapkan ketidak nyamanannya serta kekesalan demi kekesalan akibat menghadapi kengerian seorang ibu mertua. Aku sihh nggak tau, wong waktu itu pasangan aja belum ada, sedih amat ya?. Agak parno juga sih mau nikah, disbanding mikirin gimana pasanganku nanti malah lebih banyak mikirin gimana ibu mertuaku. 

Tapi dibalik itu semua aku punya mama yang sangat berperan mengubah sudut pandang ku tentang itu. mama selalu bilang kalau ibu mertua itu sangat tergantung dengan bagaimana kita. Kalau kita baik dan menyayangi seperti menyayangi ibu sendiri, maka ibu mertua pun akan demikian, begitu pun sebaliknya. Yang lebih luar biasanya dari mamaku dia selalu mengatakan satu hal yang semakin menambah kecintaanku terhadap mama. Begini katanya “Mama Ridho Ikhlas kalau nanti kamu lebih sayang dan perhatian sama ibu mertuamu, karena mama punya maaf seluas lautan, sementara ibu mertua sebaik apapun dia belum tentu demikian”. 

Keren nggak tuh?, dan aku baru sadar bahwa itu adalah cara mama untuk memberi pendidikan terbaik tentang bagaimana kelak aku harus memperlakukan ibu mertuaku. Qadarullah mama tidak sempat berada di tengah-tengah kehidupan rumah tanggaku, alhamdulillah tidak sempat pula di hadapkan pada momentum harus lebih memillih siapa diantara keduanya ketika benar-benar harus memilih. 

Balik lagi ke ibu mertua, entah apa yang terjadi pada mereka ketika harus bermasalah dengan ibu dari suaminya sendiri. Hanya mereka yang tau dan merasakan, hingga aku mendengar beberapa cerita teman terkait hal ini. bahkan tak jarang ada yang sampai saling mengumpat antara satu dengan yang lainnya. Naudzubillah….. 

Tidak dapat di pungkiri, aku percaya bahwa ada sosok mertua seperti di sinetron, mereka dengan peran yang sangat antagonis terhadap menantunya, atau justru sebaliknya. Sejatinya ada banyak tipe ibu mertua. Yang baik dan perhatian melebihi ibu kandung pun di luar sana benar-benar ada. Namun untuk selalu tetap bersinergi antara keduanya tentu menantu serta mertua perlu memiliki komunikasi yang baik satu sama lain. 

Hari ini aku benar-benar sedang menikmati indahnya menjadi seorang istri juga menantu dari ibu dan ayah suamiku. Sejak awal aku tau ibu mertuaku adalah ibu yang baik, namun aku tidak pernah berfikir bahwa dia adalah ibu yang amat luar biasa. Sejak mama berpulang, aku benar-benar kehilangan ssok terbaik bernama ibu. Tapi Qadarullah tak lama setelahnya aku memperoleh sosok ibu terbaik dari ibu mertuaku. 

Aku pun memanggilnya mama, sama seperti yang dilakukan pada ibuku sendiri. Mama melakukan hal-hal kecil untuk membuatku semakin bersyukur menjadi bagian dari kehidupannya, mematahkan segala yang diilustrasikan dalam istilah “Lidah Mertua” yang terkesan tajam dan menyeramkan. 

Faktanya aku mendapatkan mertua yang justru senantiasa menjaga lisannya, senantiasa memberi kejutan-kejutan agar aku menyadari banyak hal besar. Beliau pada akhirnya menjadi ibu mertua yang tidak akan pernah menggantikan Mama, namun senantiasa berperan layaknya Mama padaku dulu. 

Allah…. Maha baik, mengkabul doa-doa mamaku dimasa lalu sebelum ia memanggilnya. Mama selalu bilang bahwa dia yakin aku akan mendapatkan ibu mertua dan suami yang sangat baik. hingga saat ini, itu yang selalu aku pegang teguh untuk menyadari bahwa yang Allah hadirkan kini benar-benar sudah yang paling baik dan paling aku butuhkan ada dalam kehidupanku kedepan. 

Masyaallah…..

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates