Monday, April 20, 2020

Picture from: infomenarikaza.blogspot.com


            Jujur baru satu minggu belakangan saya tahu istilah atret itu apa. Berasal dari bahasa Belanda dan sering digunakan dalam teknik mengemudi yang artinya “mundur”. Saya sih kurang familiar dengan kata itu, bahkan nyaris tidak pernah mendengar sebelumnya.

          Belakangan saya berada pada momentum mendengar kata “Atret” tersebut, namun bukan dalam konteks “Apa itu atret?” melainkan “Siapa sebenarnya Atret, atau yang lebih akrab di sapa Si Atret?”. Lagi-lagi sebelumnya saya nggak pernah dengar siapa sosok itu.

                Menurut cerita, Si Atret adalah seorang kakek dengan masalah kejiwaan. Konon sebetulnya dia terlahir sebagai anak orang kaya, dan semula ia tidak bermasalah dengan jiwanya. Suatu ketika dia meminta dibelikan sebuah mobil oleh orang tuanya. Namun, mereka tidak pernah mewujudkan keinginan sang anak hingga ia memiliki masalah kejiwaan karena hal tersebut.

               Entah apa yang kemudian terjadi hingga Kakek yang akrab disapa Si Atret tersebut berakhir dengan menjalani lebih dari separuh hidupnya di jalanan. Setiap hari berjalan membawa dua buntalan besar disisi kanan dan kirinya, berkeliling kota dimana saat ini saya tinggal, sebuah kota yang pada akhirnya melegendakan sang kakek sebagai salah satu icon Kota kami, Sukabumi.

             Belum lama ini, suami saya memperlihatkan potret Si kakek jalanan, baginya si kakek membawa  kenangan  masa kecil yang berkesan tatkala ia mendengar kata “Atret”. Kakek Atret bukanlah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yang membahayakan atau  menyerang orang disekitarnya. Justru    ia selalu terlihat menyenangkan dan menghibur terutama bagi  anak-anak  kecil kala itu. Jelas bukan tanpa alasan.

            Pasalnya, kira-kira antara tahun 1999 hingga 2000an, bagi suami yang secara langsung mengalami itu. Kenangan menghampiri Si kakek Atret ketika bermain di Alun-alun Cisaat bersama teman-temannya, menjadi momentum yang sulit terlupakan hingga saat ini.

                Si Kakek yang tidak secara sengaja menghibur dengan gaya khas, menjadikan orang-orang mudah mengenalinya. Seperti bagaimana cara ia berjalan seolah-olah dirinya membawa sebuah mobil, memarkir mobilnya dan bergerak mundur jika seseorang menyimpan sebuah batu tepat dihadapannya. Yang dari semua kebiasaannya itu munculah julukan “Si Atret” yang berarti “mundur”.

                Kakek  yang diperkirakan telah 30 tahun menghabiskan waktunya dengan berjalan kaki berkeliling Kota Sukabumi ini, memiliki ciri khas lain. Ketika orang-orang di sekitarnya meminta ia melantunkan shalawat, maka yang akan ia   ucapkan  adalah “Pakuluman …….. pakuluman”, begitu katanya.  Dan banyak orang terkesan dengan itu.

                Hingga kakek Atret dikabarkan meninggal pada Januari 2015. Tak di sangka banyak dari warga Sukabumi juga mereka yang tengah berada di Luar Kota ikut berbela sungkawa atas kepergiaannya. Bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai Legenda, dan yang membuat saya tersentuh adalah ungkapan bahwa “Lain urang Sukabumi mun teu apal Si Atret” ( Bukan orang Sukabumi kalau nggak kenal Si Atret).





                Yang teramat luar biasa lagi adalah ketika saya tahu bahwa sang legenda telah di abadikan sosoknya dalam sebuah pemetasan Drama Komedian Sunda bertajuk “Si Atret Jadi Potret” oleh Komunitas Teater Sukabumi. Membuktikan betapa berkesannya ia di hati banyak orang.


                Seorang Kakek dengan masalah kejiwaan ini adalah teman masa kecil bagi mereka yang kini telah tumbuh dewasa. Sulit dilupakan, karena sosoknya yang teramat berkesan. Dia bukan siapa-siapa, pejabat, aktor atau orang yang memberi pengaruh besar bagi Kota Sukabumi. Tapi bagi mereka yang tahu siapa “Si Atret”, mereka akan selalu ingat bahwa dia benar-benar sempat mewarnai sukabumi dengan kisah dan kekhasan yang selalu melekat pada dirinya, bahkan hingga ia telah tiada.

13 Comments

Hahh... Makasih udah membuat tulisan ini Neng Wiwi... Masa kecil aku dulu tinggal di Cibatu Cisaat dan setelah pindah ke Cibolang aku pun masih sering melihatnya dan hampir tiap hari melihat beliau. Saya baru tahu kabarnya lagi. Membekas banget di ingatan. Kalau sehari ga lihat aja ada yang aneh...

REPLY

iya.. masa kecil ku pun terbiasa dengan kata si atret
so legend...

REPLY

Atret ....
Pakuluman ... Pakuluman ....
Itulah benar ciri khas beliau, gambaran hidup untuk jadi dikenal dan dikenang tidak harus kaya, cantik, atau ganteng.
Semoga beliau husnul khotimah.

REPLY

Atret ....
Pakuluman ... Pakuluman ....
Itulah benar ciri khas beliau, gambaran hidup untuk jadi dikenal dan dikenang tidak harus kaya, cantik, atau ganteng.
Semoga beliau husnul khotimah.

REPLY

Atret ....
Pakuluman ... Pakuluman ....
Itulah benar ciri khas beliau, gambaran hidup untuk jadi dikenal dan dikenang tidak harus kaya, cantik, atau ganteng.
Semoga beliau husnul khotimah. IOnes

REPLY

Atret ....
Pakuluman ... Pakuluman ....
Itulah benar ciri khas beliau, gambaran hidup untuk jadi dikenal dan dikenang tidak harus kaya, cantik, atau ganteng.
Semoga beliau husnul khotimah. IOnes

REPLY

Atret ....
Pakuluman ... Pakuluman ....
Itulah benar ciri khas beliau, gambaran hidup untuk jadi dikenal dan dikenang tidak harus kaya, cantik, atau ganteng.
Semoga beliau husnul khotimah. IOnes

REPLY

Aamiin,
Hatur nuhun kunjugan nya pak :)

REPLY

Dulu tinggal di daerah mana emang kang ?

REPLY

Terimakasih inspirasi nya 😘

REPLY

Iya Bu, aku malah kaget, karena sama sekali nggak pernah denger pas cari tau ternyata orang orang justru terkesan sekali dengan sosoknya.

REPLY

Ada yang tau dimana kuburannya?

REPLY

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates