Friday, April 10, 2020

Arsip Pribadi 


              Bagi kita yang tidak terlahir dari keluarga dengan kemampuan menjamin serta memfasilitasi segala jenis kebutuhan mulai dari primer, sekunder hingga tersier, tentu untuk memenuhi apa yang kita inginkan menjadi sesuatu yang tidak cukup mudah. Dengan kata lain kita perlu usaha lebih keras dari mereka yang telah terjamin segala bentuk kebutuhan tersebut.

            Seperti hal nya dalam hak memperoleh pendidikan setingi-tingginya.  Jika mereka terlahir dari keluarga yang  dikatakan kaya, mungkin akan lebih mudah  untuk mewujudkan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang tidak seberuntung itu, dengan kata lain terlahir dari keluarga kurang mampu tentu kita harus lebih keras memutar otak bagaimana agar terpenuhi keinginan tersebut. Contoh nya mencari beasiswa atau justru dengan berat hati harus menunda.

              Saya tidak sedang membahas siapa yang beruntung atau tidak dalam hal ini. Justru  saya akan berusaha mengenyampingkan fakta tersebut, karena hakikatnya terlahir dari keluarga seperti apapun semua berkesempatan memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi sekali pun.

                “Tapi kan sekolah butuh biayabesar?”

                “Beasiswa?, emang gampang dapet beasiswa?”

               Fakta itu juga benar adanya, biaya pendidikan yang terbilang mahal serta tidak mudahnya seseorang memperoleh beasiswa tentu menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya itu, fakta ini juga membangun ketakutan individu untuk bermimpi dan berharap meraih apa yang dicita-citakan.

            Terlepas dari itu semua, dari apa yang pernah terjadi dan saya alami dalam proses menempuh perjalanan memperoleh pendidikan. Saya berfikir bahwa kita hanya perlu memiliki lingkungan yang tepat, positif serta penuh optimisme.

          Sejak pengumuman kelulusan SMA, yang saya fikirkan adalah tentang bagaimana menjalani kehidupan setelahnya. Setelah tahu bahwa saya tidak lulus SNMPTN, belum berkesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Dan sudah pasti dengan berat hati menunda keinginan untuk kuliah di tahun tersebut.

               Mama yang kala itu sudah hampir 6 tahun menjalani hidup sebagai orang  tua tunggal bagi ke lima putrinya. Sudah sejak awal bahkan jauh sebelum saya lulus SMA, dia selalu mengatakan bahwa tidak akan menanggung biaya kuliah dan akan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab tersebut pada saya secara pribadi. Dan hal itu selalu ia ungkapkan kepada seluruh anak-anaknya, tidak hanya saya.

             Kami amat sangat mengerti dan tidak satu pun merasa tersakiti dengan pernyataan mama terkait ketidak mampuannya menyekolahkan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Mengapa demikian?, itu karena mama hidup sebagai pribadi yang positif dan penuh optimisme, selalu yakin bahwa anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan layaknya mereka yang secara finansial mampu melakukan itu. Dan beruntungnya kami, sikap positif dan optimisme tersebut mampu ia tularkan dengan caranya sendiri.

         Menghujani kami dengan kalimat-kalimat positif, membangun optimisme yang menyelamatkan kami dari kelemahan berfikir yang beresiko menjatuhkan kepercayaan diri dalam meraih mimpi.

              Benar, jika secara finansial mama tidak menjamin pendidikan kami.  Tapi mama berhasil membangun lingungan yang baik dalam keluarga, membangun sikap positif dan optimis bahwa kami mampu membiayai pendidikan secara mandiri hingga sampai pada titik yang menjadi harapan terbesar mama terhadap kami ke liman putrinya.

             Kekuatan  dukungan moril berupa kalimat – kalimat positif yang membangun memang terdengar sepele, bahkan mungkin bagi sebagian individu hal tersebut tidak memberi begitu banyak pengaruh signifikan bagi kehidupa seseorang. Tapi mama melakukanny dan membuktikan bahwa hal sekecil itu mampu membawa anak-anaknya pada sebuah kepercayaan diri meraih apa yang menjadi mimpi besar kami.

            Bahkan hingga hari ini, setelah beliau tiada sekitar 3 tahun yang lalu, saya masih selalu ingat seperti apa kalimat-kalimat positif yang sering ia ucapkan. Sebesar apa kalimat itu memberi pengaruh positif hingga saya dan kakak-kakak menyelesaikan pendidikan kami. Dan itu pula yang kemudian menjadi kekuatan terbesar saya untuk bisa kembali berjuang melanjutkan pendidikan  pada jenjang berikutnya.

 Doakan, saya masih memiliki harapan serta mimpi  besar untuk melanjutkan S2, berbekal kalimat-kalimat positif dari mama yang selalu terngiang semoga saya bisa mewujudkannya. Aamin….

 


3 Comments

Aamiin... Alfatihah untuk mama...

REPLY

tetap semangat teh widya, doa terbaik untuk Mamah

REPLY

Tetap semangat teh widya, semoga harapan dan mimpi teteh bisa tercapai bahkan terlampaui. Aamiin

REPLY

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates