Wednesday, August 14, 2019


      
     Berulang kali saya katakan, saya adalah si melankolis yang dramatis. Mudah tersentuh hatinya dan terlalu mendramatisir apa yang di alami. Selalu berfikir bahwa menjadi saya tidak mudah, penuh ujian dan tantangan. Sebelum akhirnya menikah banyak kesakitan yang saya dapatkan, banyak kekecewaan yang saya terima. Sempat menyerah dengan Rahmat Allah karena jodoh saya tak kunjung datang kala itu.
       Setiap hari saya meminta yang terbaik, tapi yang datang adalah sosok sosok Bumengecewakan. Tidak se visi dan se misi, tidak kooperatif dan akhirnya membuat saya menangis dan selalu seperti itu berulang-ulang kali.
      Suatu ketika sampailah pada momentum dimana seseorang datang untuk menyampaikan niat nya melamar saya. Satu tahun yang lalu tepatnya, ketika saya berada dititik pasrah dengan apa yang Allah tetapkan. Saya menerima lamarannya, hingga dia secara agama dan negara sah sebagai suami saya. Tentu saya bahagia dengan visi misi yang ia tawarkan. Semua nyaris sama dengan  apa yang saya harapkan ada pada suami saya.
      Sampai disana semua baik-baik saja. Saya menikmati menjadi istri dari suami saya. Dia baik, bertanggung jawab dan menghargai saya tidak hanya sebagai istri tapi sebagai perempuan dengan segala keterbatasannya.
     Kebiasaan kami yang paling menonjol  setelah menikah adalah saling bertukar informasi, saling berbagi kisah apa yang terjadi dari satu hari yang kami lewati. Bahkan lambat laun hal itu menjadi rutinitas. Dan dari rutinitas itu aku semakin lebih jauh mengenal siapa sebenarnya dia.
       Lama kelamaan tampak lah dengan jelas perangai suami saya. Sering kali dia menampar dan membuat saya menangis.
Kian hari kian sering hal itu terjadi. Terlebih setelah kami kerap membuka pembahasan tentang belumnya Allah memberi kami kepercayaan untuk memiliki anak dalam kehidupan rumah tangga kami. Hal itu selalu berakhir dengan tamparan yang membuat saya bercucuran air mata.
      Puncaknya kemarin malam. Saat kami kembali membahas perihal anak dan keturunan yang belum menunjukkan tanda tanda kehadiran nya.
Entah kenapa saya tiba tiba terdorong untuk bertanya satu pertanyaan yang sebetulnya saya menyadari bahwa itu agak konyol.
"Aa (panggilan saya untuk suami), kenapa aa nggak pernah terlihat marah sama Allah??"
"Kalo harus marah, alasannya apa??,"jawab suami.
"Alasan nya ya karena kita belum punya anak, aku belum ada tanda tanda kehamilan setelah satu tahun kita menikah, kita sudah ikhtiar, sudah do'a siang malam, tapi Allah belum juga memberi kepercayaan itu." Berlinang lah saya tiba-tiba, dan ini bukan kali pertama. Momentum membahas hal ini selalu berakhir dengan pecahnya tangisan saya.
       Suami tersenyum, melihat saya menangis dia  seperti sedang menonton sebuah kelucuan. Sejenak dia terdiam hingga akhirnya kembali menanggapi perkataan saya.
"Apa harus marah hanya karena itu?, setelah sekian banyak kenikmatan yang Allah kasih. Justru aa malu, dengan begitu banyak kebaikan Allah, aa belum bisa jadi hamba yang baik. Syukuri, apa yang kita dapat saat ini. Kalo soal dunia sering-seringlah melihat ke bawah.
Saat ini kita belum Allah beri kepercayaan punya anak, coba lihat sahabat-sahabat kita yang saat ini masih menanti jodohnya. Kalo sekarang kita belum kaya harta coba lihat saudara kita yang untuk cari makan hari ini saja masih kesulitan, sementara Alhamdulillah Allah sudah cukupkan kita. Lihatlah ke bawah insyaallah kita akan lebih banyak bersyukur."
       Semula hanya berlinang, seketika sudut mata  menumpahkan genangan air yang mengalir melewati setiap garis wajah, deras sekali hingga saya terisak dalam pelukan sosok yang selalu menenangkan itu.
       Untuk kesekian kali saya di tampar kata-kata penuh kelembutan, terlontar dari pribadi yang selalu berusaha tampak manis di depan saya. Tidak pernah marah, tidak pernah berbicara dengan nada yang terlampau tinggi dan selalu memotivasi.
Semoga Allah istiqamah kan ia dalam kebaikan.
       Tamparan demi tamparan itu selalu terasa menyayat hati, tatkala saya ingat betapa pengabdian ini masih jauh untuk
membalas kebaikan sang maha Rahman.
Bahkan mungkin nyaris tidak mampu membalas semua yang telah Allah berikan.
      Semakin menyayat hati, saat saya sadar setiap tantangan yang Allah berikan   adalah bentuk cinta yang diakhiri dengan pemberian hadiah terbaik.
       Seperti suami saya, pribadi baik yang Allah kirimkan untuk menjadi bagian dari hidup saya setelah sebelumnya Allah lebih dulu pertemukan dengan sosok sosok yang memang tidak baik untuk si melankolis seperti saya. Hadirnya suami adalah salah satu dari sekian banyak  alasan untuk selalu bersyukur dan berhusnudzon kepada Allah. Dan berkat kelembutan hatinya lah saya mampu menyadari itu.
       Semoga Allah segerakan kehadiran buah hati dalam perjalanan rumah tangga kami... Aamiin..    

5 Comments

Mantapsss,,,terharu bacanya 😊

REPLY

Bu wiwi..masyaAllah..tulisan yg bgus..dtunggu karya selanjutnya

REPLY

Terimakasih...
Insyaallah secepatnya ☺️

REPLY

Suamiiiii😘😘😘

REPLY

MasyaAllah... Barokallah.. selalu samawa yaa sehidup sesurga.Aamiin.. Btw tulisannya bagus, ringan tapi ngena ikut terharu bacanya

REPLY

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates