Sunday, August 18, 2019


Kamu mungkin tau bagaimana rasanya sangat berharap memiliki momongan sementara kesempatan hamil bahkan belum pernah kamu rasakan. Bagaimana rasanya di cecar beragam pertanyaan perihal kehamilan, kenapa belum hamil?, Ditundakah? Dan lain sebagainya perihal itu. Berapa banyak test pack yang kamu beli tanpa satupun memberikan kabar baik. Seberapa keras kamu menata hati menyaksikan teman temanmu show up kehamilan mereka di sosial media??. Bagaimana kamu berfikir sedang hamil dengan tanda tanda yang kamu temukan pada dirimu, lalu ternyata itu bukan tanda kehamilan? Bagaimana hari-harimu diisi dengan menunggu kabar baik itu, namun belum kunjung datang?.


Kamu pasti tau bukan bagaimana rasanya???...

Saya mengalami itu, saya berdo'a, beristigfar, memohon dan meminta.
Saya kebingungan, nasihat untuk terus beristigfar saya lakukan, bershalawat saya dawamkan . Tapi, kalian tentu tahu apa yang kemudian  terjadi?, hasilnya tetap sama.  Saya terus bertanya dosa apa yang belum terampuni????.


Hingga sampailah saya di titik sangat lelah menunggu, lelah berdo'a, lelah berusaha, dan berakhir pada titik dimana saya berani menyalahkan Allah dan ketetapannya. Astagfirullah....


Saat seperti itu pula, adalah saat dimana saya bertarung dengan lingkungan.
Mengapa demikian???
Lingkungan menyiratkan banyak gambaran kehidupan yang saya inginkan, namun bertentangan dengan apa yang saya tengah jalani.


Teman teman yang show up kehamilan mereka di sosial media, sementara saya belum hamil. Teman-teman saya bilang mereka bahagia, saya tidak merasakan sebahagia apa. Mereka tersenyum saya berfikir dan bertanya "kenapa??", "Kenapa saya??"

***

Rasanya ini bukan kali pertama saya menunggu, bukan juga yang ke dua atau ke tiga, ini kesekian, menunggu apa yang benar-benar saya inginkan. Harusnya mulai terbiasa menunggu, tapi faktanya saya memang hanya manusia biasa yang secara personal suasana hati mudah berubah dan tingkat keimanan yang naik turun dengan signifikan.


Harus bagaimana??? 

Sementara ingin rasanya melewati penantian ini dengan baik, mengukir jejak yang indah tanpa menyalahkan Allah, menghakimi takdir dan meratapi nasib.
Saya ingin tetap bahagia di tengah hujan status kehamilan teman-teman saya, saya ingin sudut mata ini tetap kering tatkala setiap bulan mendapati kenyataan bahwa ikhtiar menghadirkan momongan masih harus dilakukan. 


Akhirnya saya benar benar menyalahkan Allah, menghakimi takdir dan meratapi nasib dengan derai air mata yang menganak sungai.

***

Lalu kembali lah saya pada masa lalu, melihat dan mengingat apa yang pernah terjadi kala itu. Bagaimana saya menunggu banyak hal hingga akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. 

Yang saya ingat, saya tetap hidup sampai detik ini, saya mampu melewati momentum penantian di masa lalu dan saya akui dari experience itu saya belajar banyak. Dengan begitu apa alasan saya tidak bisa melewati ini dengan baik?.


Baiklah.....
Saya rasa perlu melakukan sesuatu untuk tetap bahagian dalam penantian ini.
Sesuatu yang membuat saya lupa dengan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan ketidak syukuran.


Terus "Menata Hati"....
Ya, itu yang kemudian harus saya lakukan.
Seperti ruangan dalam rumah, saya memiliki ruang dalam hati.
Jika rumah yang tertata rapi akan terasa nyaman dan menyejukkan, begitu pun hati.


Bagaimana kemudian saya berupaya menata hati??

Yakni dengan mengingat bahwa apapun yang terjadi adalah bentuk kecintaan Allah terhadap hambanya.
Bahwa yang kita rasa baik belum tentu bagi Allah dan sebaliknya.
Bahwa apa yang belum di dapatkan adalah sesuatu yang telah Allah persiapkan dengan sempurna sebelum akhirnya tangan kita menerimanya.


Tidak perlu menghindari teman teman yang sudah lebih  dulu Allah beri kesempatan hamil. Tidak perlu berprasangka buruk ketika mereka show up kehamilan di sosial media.
Tidak perlu menanggapi negatif pertanyaan khalayak tentang kenapa belum hamil?.

Tidak lakukan itu, karena jika iya, lelah lah kita.

Menata hati, adalah meletakkan dengan tepat dan pada posisi semestinya sesuatu di dalam hati. Semoga seluruh perempuan dengan kondisi serupa, semakin pandai menata hatinya. Begitupun saya, yang sampai detik ini masih terus berusaha.
Semangat sahabat....


Insyaallah, Allah segerakan kehadiran putra putri melengkapi kehidupan rumah tangga kita

3 Comments

Aku mba.. 4 th ngalamin itu, sampai kadang ngrasa lelah.. lelah bgt, tp gak bisa menyalahkan siapapun apalagi Allah.. benar , memang harus menata hati apalagi tiap bulan harus merasa kecewa karna udah telat tapi mendapati 1 garis merah..

REPLY

Ternyata semua perempuan dengan kondisi serupa ngerasain hal yang sama ya mbak...
Sedih tiap menstruasi, kecewa karena nggak dapet garis 2 dan cerita cerita lain di balik itu. Insyaallah kesabaran kita berbuah manis ya mbak... Jangan nyerah, jangan berhenti berdoa... Allah sudah siapkan kejutan indah buat kita

REPLY

Setiap manusia d uji dlm bentuk yg berbeda beda.tary jg pernah ada d posisi sulit.posisi dmn saya merasa pling nelangsa pling hancur..hopeless dan akhrnya mnyalahkan Allah..astagfirullah..
Tp Allah mnjwb smua yg mnjd ketakutan dan kcemasan it dgn perlahan dan membuat harapan it bangkit lagi..

Semangat bu Wiwi..kita berjuang sama2 walau dlm hal berbeda..

REPLY

Widya Bahri . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates